Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

MOHAMMAD ULIN NUHA, PAI NON PNS KECAMATAN NGETOS. SELESAI CORONA AKANKAH KITA MERASA LEGA? Coronavirus, benar-benar memporak-porandakan tatanan, baik ekonomi, sosial pergaulan, peribadatan, pekerjaan, perwisataan, dan lain-lain sampai hal-hal yang kecil seperti ketika kita mau masuk rumah kita sendiri, kita harus cuci tangan pakai sabun, apalagi masuk rumah orang lain. Dulu ketika kita mau masuk rumah cukup baca do'a dengan membaca surat Al-Fatihah, ayat Kursiy dan surat Al lkhlash yang dimulai dengan membaca salam: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته manakala dalam rumah ada orangnya, dan apabila tidak ada orang di dalam rumah maka membaca : السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين itu dulu, sekarang harus cuci tangan pakai sabun, semua pakaian harus langsung dicuci, walaupun itu sangat bagus, tapi rasanya sangat menyesakkan hati, akibat coronavirus. Dan ini tidak hanya melanda Indonesia saja, tapi hampir seluruh belahan dunia mengalami hal yang sama. Sekarang setelah beberapa waktu di beberapa negara di belahan dunia coronavirus sudah mulai mereda, walaupun masih banyak korban mati yang berjatuhan, masih saja banyak yang terpapar, masih banyak yang reaktif/ sangat dimungkinkan terpapar virus, tapi beberapa fasilitas umum sudah banyak yang mulai dibuka kembali, tranportasi umum sudah banyak yang mulai operasi lagi, pabrik-pabrik juga sudah banyak yang produksi lagi, sekolah-sekolah sudah mulai ada aktivitas lagi, tempat-tempat hiburan sudah banyak yang dibuka lagi, walaupun semuanya dengan segala aturan dan tatanan yang baru, istilahnya new normal. Akankah kita merasa lega? Bisakah kita bernafas lega? Jawabanya jelas tidak, sekali lagi tidak boleh, kita tidak boleh merasa lega, tapi kita harus kerja lebih keras lagi. Karena hal-hal yang sudah kita capai manakala kita tidak semakin giat, maka keberhasilan itu tidak akan bertahan lama, bahkan bisa jadi coronavirus akan lebih dahsyat lagi. Karenanya masa-masa seperti sekarang ini kita harus semakin giat melakukan tatanan-tatanan yang baru dengan semakin berhati-hati, semakin serius, bekerja semakin giat untuk mengejar target-target yang tertunda akibat virus, belajar lebih giat, dan beribadah semakin semangat, tidak malah berpangku tangan dan berleha-leha karena meredanya virus. Kawan!, new normal itu tantangan-tantangan yang lebih berat dari pada masa coronavirus. Dimasa coronavirus kita cukup berusaha mematikan dan memutuskan rantai penyebaran virus, tapi dimasa new normal, kita dituntut harus tetap berusaha (mempertahankan usaha) mematikan dan memutuskan rantai penyebaran virus, ditambah kita dituntut harus mencari cara / solusi dan menata ulang perekonomian kita, menata ulang model pendidikan kita, menata ulang tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi tempat penyebaran virus, dan menata ulang semua hal agar virus tidak muncul lagi. Karena itu kawan!, masa new normal tantangannya lebih berat dari pada masa pandemi, ayolah kita pasti bisa, kita harus bisa, dan tentu kita bisa, melewatinya dengan benar. Kawan dulu sekali kalau di Pondok dalam kitab Alfiah ibnu Malik ada pernyataan : للرفع والنصب وجر نا صلح # كاعرف بنا فاننا نلنا المنح Lafadz (dhomir) na (نا) bisa dan patut untuk i'rob rofa', i'rob nasab, dan i'rob jer. بنا (jer), فاننا (nasab), dan نلنا (rafa'). Artinya sebagai seorang santri (mukmin) kita harus bisa dan tentu bisa hidup dalam situasi apapun. Dalam situasi jadi orang terhormat dan makmur (rafa') bisa, jadi orang yang berpangkat tinggi (nasab) bisa, bahkan jadi orang rendahan dan kesusahan/masa pandemi (jer) tetap bisa. Semoga Allah SWT segera menghilangkan dengan tuntas semua coronavirus dari muka bumi ini, kususnya Indonesia, sehingga semuanya bisa kembali normal yang wajar. Amin. Wa Allahu a'lamu bishshowab.