Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

DAKWAH ATAUKAH SETATUS Perubahan dunia dalam bidang teknologi digital yang semakin maju, manusia dalam keadaan apapun dituntut harus semakin maju, apalagi mengenai tentang pengetahuan dan informasi yang sekarang juga semakin banyak sumbernya, sedangkan perkembangan informasi dan pengetahuan diera digitalisasi semakin banyak dan tak terbatas, apalagi kebenaran tentang informasi yang sering dishare baik lewat website dan whatssap yang masih diragukan kebenarannya atau bahkan bagian dari propaganda dan hoax, maka dari situ kita sebagai seorang muslim juga dituntut lebih pintar mengenai informasi dan belajar mengenai pengetahuan dengan benar sumbernya dan jelas informasi yang akan dituju. Apalagi informasi mengenai bidang agama atau dakwah yang lagi beredar lewat website, youtube, Instagram dll. Banyak konten-konten yang menyesatkan, yang kelihatannya sangat islami tapi nyatanya menjurus ke radikal, belum lagi konten-konten yang terlalu vulgar yang mestinya tidak pantas untuk ditampilkan, yang kesemuanya karena efek dari kemajuan tekhnologi tersebut. Sehingga kita seorang muslim apalagi seorang penyuluh hukumnya wajib untuk amar makruf nahi mungkar lewat media yang sama, kita wajib berdakwah dan menyebarkan ajakan-ajakan yang menjurus pada kebaikan, demi mengimbangi konten-konten yang tidak baik tersebut. Karena tidak mungkin kita memberantas konten-konten tersebut, solusi yang logis kita ikut masuk dan mengimbanginya dengan menampilkan kalimah-kalimah yang membangun akhlak yang baik dan tampilan-tampilan yang mengandung anjuran atau ajakan yang menuju kebaikan. Dan ini sudah sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi: “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, yang demikian itu selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim). Dan dakwah lewat digital itu sama dengan berusaha merubah kemungkaran dengan tangan lewat jari jemari, dengan lisan lewat bahasa yang baik, dan sekaligus dengan hati, dengan ketidak setujuan kita pada konten-konten yang tidak baik, insyaallah. Apabila kita tidak ikut masuk, maka secara otomatis yang masuk adalah kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan aqidah kita, atau bahkan kelompok yang hanya mencarai keuntungan materi saja, yang menghalalkan segala cara yang tidak memperdulikan pengaruh yang jelek atau bahkan yang menjurus pada radikalisme, sehingga kehadiran kita tentunya bisa menghambat mereka atau setidaknya ada konten yang islami dan menumbuhkan rasa kebangsaan yang membawa kedamaian.Lalu apakah itu benar-benar dakwah ataukah hanya setatus? Ataukah kedua-duanya? Semunya kembali pada diri pelaku, karena bedanya sangat tipis dan tidak mudah kelihatan, karena perbedaannya ada di niat si pelaku. Akan tetapi akibatnya sangat jauh berbeda, antara surga dan neraka, antara rahmat Allah dan murka-Nya, antara bersama kekasih-kekasih Allah dan musuh-musuh-Nya. Maka kita harus benar-benar memahaminya. Dalam kitab Minhaaj Al-‘aabidin hal. 79 Al-Imam Alghazali berkata: “Diantara kekawatiran riyak ada dua macam kejadian yang sangat memalukan pelakunya dan dua macam musibah yang akan menimpanya. Dua kejadian memalukan tersebut yang pertama secara rahasia diantara para malaikat, ketika amal tersebut dibawa malaikat menghadap Allah SWT, maka Allah akan menolaknya mentah-mentah. Yang kedua secara terang-terangan dihadapan para makhluk Allah di hari kiamat nanti dan dipanggil dengan panggilan wahai orang kafir, wahai orang lacut, wahai orang khianat, wahai orang yang rugi, sesat amal perbuatanmu, hancur pahalamu, tidak ada bagian untukmu, sekarang carilah pahala dari orang yang kamu pameri, wahai pembohong. Dan musibah yang akan menimpa seorang pelaku riyak adalah pertama kehilangan kesempatan masuk surga, dan yang kedua masuk neraka”.Jadi apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan ajaran islam? Apakah termasuk dakwah ataukah hanya pasang setatus? Ataukah keduanya? Maka jawabannya ada pada hati dan niat kita. Bagaimana dengan anda? Secara pribadi, terus terang hal diatas sangatlah berat, menata hati agar tidak ada rasa riyak, ujub, bangga, atau sombong, yang murni dakwah atau jihad. Sehingga pada akhirnya saya berpendapat: pokoknya beramal yang membawa manfaat untuk orang mukmin, entah saya ikhlas atau tidak, akan saya lakukan. Pokoknya ada manfaat dan membantu orang mukmin lain akan saya lakukan, entah saya merasa ikhlas atau riyak, itung-itung sebagai latihan, dan saya sangat yaqin suatu saat Allah SWT pasti memberikan keikhlasan pada saya. Aamiin. Wa Allahu a’lamu bish-showwab.