Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

KEISTIMEWAAN ORANG YANG SUDAH TUA ‎عن انس ابن مالك رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم ان الله تعالى ينظر الى وجه الشيح صباحا ومساء ويقول يا عبدي قد كبر سنك ورق جلدك ودق عظمك واقترب اجلك وحان قدومك الي فاستح مني فانا استحي من شيبتك ان اعذبك في النار ‏ ‏ ‏Artinya ‎: ‏Diriwatkan dari Sahabat Anas bin Malik, ‏beliau berkata telah bersabda Baginda Rasulullah SAW ‎: ‏sesungguhnya Allah SWT melihat pada wajah orang yang sudah tua diwaktu pagi dan sore dan berfirman wahai hambaku, ‏umurmu benar-benar sudah tua, ‏kulitmu sudah tipis, ‏tulang-tulangmu sudah keropos, ‏ajalmu sudah dekat, ‏waktumu menghadap-Ku sudah datang, ‏maka merasalah malu kamu pada-Ku, ‏Aku akan merasa malu dari ubanmu untuk menyiksamu di nerakaSeseorang yang sudah tua, ‏yang usianya sudah diatas tujuh puluh, ‏yang kulitnya sudah semakin tipis atau keriput, ‏yang tulang-tulangnya sudah keropos, ‏yang ajalnya sudah semakin dekat, ‏yang sudah waktunya menghadap Allah SWT, ‏maka tiap waktu pagi dan waktu sore Allah akan melihat wajahnya dengan penuh belas kasihan seraya berkata ‎: ‏wahai hambaku, ‏umurmu benar-benar sudah tua, ‏kulitmu sudah tipis, ‏tulang-tulangmu sudah keropos, ‏ajalmu sudah dekat, ‏waktumu menghadap-Ku sudah datang, ‏maka merasalah malu kamu pada-Ku, ‏Aku akan merasa malu dari ubanmu untuk menyiksamu di neraka. ‏Dalam hadits diatas menerangkan betapa Allah SWT sangat menyayangi orang yang sudah tua renta, ‏setiap pagi dan sore Allah melihatnya, ‏perlakuan Allah SWT dengan melihat orang tua tersebut menandakan betapa Allah sangat sayang dan memperlakukan dengan sangat baik pada orang yang sudah tua, ‏cukup dengan merasa malu pada Allah, ‏maka Allah akan malu untuk memasukkan orang tua tersebut ke dalam neraka, ‏yang berarti Allah akan menerima semua amal-amal kebaikannya dan mengampuni semua kesalahannya. ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏Kita sering melihat orang yang sudah tua renta, ‏jalannya sudah bungkuk, ‏cara berdirinya sudah tidak tegak, ‏jadi kadang sholatnya dengan berdiri miring kadang malah sambil duduk, ‏kalau mengucapkan bacaan-bacaan sholat juga sudah tidak fasih lagi ‎(pelo kata orang jawa). ‏Bahkan dalam ibadah-ibadahnya semua sudah tidak sempurna, ‏tapi semua itu akan diampuni oleh Allah, ‏dan Allah cukup memerintahkan padanya untuk berbuat malu saja, ‏yaitu malu untuk bebuat maksiat, ‏malu untuk meninggalkan perintah Allah, ‏dan malu untuk tidak berdzikir pada Allah SWT. ‏Dalam acara apapun orang yang akan diminta untuk berdoa tentu orang yang paling tua, ‏walaupun mungkin secara ilmiyah dia kalah dengan yang muda, ‏tapi tetap masyarakat akan memilih dan mengutamakan orang yang paling tua, ‏apalagi dia seorang yang alim atau pemuka agama, ‏karena masyarakat sangat yaqin doa orang yang sudah tua akan mudah dikabulkan oleh Allah SWT, ‏seperti kita tahu bahwa doa orang tua itu sangat mustajab apalagi untuk anak-anaknya. ‏Itu semua tidak lain karena rasa kasih sayang Allah pada orang yang sudah tua, ‏seperti keterangan hadits diatas. ‏Jadi semakin tua akan semakin mustajab doanya. ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏Dalam kitab Al-Mawaidz Al-Ushfuriyah halaman ‎03 ‏dikisahkan bahwa Sayyidina Ali radhiyallah anhu sedang berjalan dengan tergesa-gesa untuk ikut jamaah sholat shubuh bersama Rasulullah SAW, ‏kemudian di jalan dia bertemu orang yang sudah tua yang berjalan didepannya dengan pelan dan santai di tengah-tengah jalan, ‏tapi Syyidina Ali ra tidak melewati orang tua tersebut karena memulyakan orang tua tersebut dan mengagungkannya karena melihat ubannya, ‏sampai waktu sholat shubuh habis dan sudah waktunya matahari terbit. ‏Selanjutnya ketika orang tua itu sudah dekat dengan pintu masjid, ‏lalu orang itu jalan terus dan tidak masuk masjid, ‏maka Ali ra baru tahu ternyata orang tua itu adalah orang nasrani, ‏kemudian Ali ra masuk masjid dan menemukan Rasulullah SAW dalam keadaan masih ruku, ‏Rasulullah SAW memanjangkan rukunya sampai kira-kira sepanjang waktu sholat dua rokaat, ‏sampai akhirnya Ali ra bisa mengikuti sholat berjamaah bersama Rasulullah SAW. ‏Setelah Rasulullah SAW selesai melaksanakan sholat, ‏ada sahabat yang bertanya ‎: “wahai Rasulallah kenapa anda memanjangkan ruku’ ‏dalam sholat ini yang tidak pernah anda lakukan?” ‏Rasulullah SAW menjawab ‎: “ketika aku sedang ruku’ ‏dan telah mengucapkan wiridku yaitu ‎سبحان ربي العظيم ‏dan aku akan bangun dan akan mengangkat kepalaku maka datanglah malaikat Jibril as dan meletakkan sayapnya pada punggungku dan memegangiku dengan waktu yang lama, ‏setelah dia mengangkat sayapnya maka aku baru bisa mengangkat kepalaku”. ‏Kemudian para sahabat bertanya ‎: ‏kenapa wahai Rasulallah ‎?” ‏Rasul menjawab ‎“aku tidak menanyakannya pada Jibril”. ‏ ‏ ‏Kemudian Malaikat Jibril alaihissalam datang dan berkata Wahai Muhammad ‎! ‏sesungguhnya Ali tergesa-gesa untuk ikut sholat jamaah, ‏kemudian ketemu orang tua yang nasroni di jalan dan dia tidak tahu kalau orang tua itu seorang nasrani, ‏lalu Ali memuliakannya karena orang itu orang yang sudah beruban dan tidak mendahuluinya serta tetap menjaga haknya sebagai orang yang sudah tua. ‏Kemudian Allah SWT memerintahkan kepadaku untuk menahanmu dalam ruku sampai Ali bisa ikut jamaah sholat shubuh bersamamu. ‏Keajaiban ini masih belum seberapa, ‏ada yang lebih ajaib lagi, ‏yaitu sesungguhnya Allah SWT memerintahkan malaikat Mikail as untuk memegangi matahari dengan sayapnya sehingga matahari tidak terbit dalam waktu yang lama karena Ali ra ini. ‏Dan Rasulallah SAW bersabda ‎: ‏Derajat kekeramatan ini karena memuliyakan orang yang sudah tua, ‏yang padahal dia seorang nasrani. ‏ ‏ ‏ ‏Dari keterangan diatas maka hukum menghoramti orang yang sudah tua, ‏apalagi yang sudah renta adalah wajib. ‏Padahal dalam keterangan hadits diatas orang tua tersebut adalah nasrani, ‏apalagi kalau orang tua tersebut adalah guru-guru kita, ‏pemuka-pemuka agama kita, ‏sesepuh-sesepuh kita, ‏ulama-ulama kita, ‏kiyai-kiyai kita, ‏orang tua kita, ‏atau senior-senior kita, ‏maka jelas hukum menghoratinya adalah wajib. ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏ ‏Wa Allahu alamu bish-showab.