Postingan
Menampilkan postingan dari Juni, 2020
SANTRI DESO DAN CORONA* *من اهان خمسة خسر خمسة، من استخف بالعلماء خسر الدين ومن استخف بالامراء خسر الدنيا ومن استخف بالجيران خسر المنافع ومن استخف بالاقرباء خسر المودة ومن استخف بأهله خسر طيب المعيشة* Barang siapa meremehkan 5 kelompok/orang maka dia akan rugi (bahkan rusak) 5 perkara. 1. Barang siapa meremehkan ulama dia akan rusak dan rugi agamanya (karena ulama adalah sumber syariah agama). 2. Barang siapa meremehkan umaro maka dia akan rugi/rusak dunianya (karena umaro yang mengatur dan menguasai urusan dunia), 3. Barang siapa meremehkan tetangga maka dia akan rugi tentang kemanfaatan dan kebaikan, bahkan nabi bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim: demi Dzat yang menguasai diriku, seorang hamba tidak dikategorikan beriman sehingga dia mencintai tetangganya seperti mencintai dirinya sendiri, 4. Barang siapa meremehkan kerabat/keluarga/saudaranya maka dia akan rugi dan kehilangan kasih sayang keluarga, karena dukungan utama adalah kerabat/saudara-saudaranya, 5. Barang siapa meremehkan istri/suaminya maka dia akan rugi dan kehilangan nikmatnya kehidupan/kebahagiaan. Ahbar diatas adalah ahbar yang diriwayatkan dari Rosulillah SAW, jadi pasti benar adanya, saya sebagai muslim yang berlatarbelakang pesantren (kata orang santri deso) tentu orang yang pertama kali saya pandang dan saya ikuti adalah para ulama, karena para ulama yang menjadi kunci utama agama. Kita bisa mengucapkan kalimat syahadat dan mengerti maksudnya dari ulama/kiyai, kita bisa sholat dengan benar, zakat, puasa sampai berhaji dari ulama/kiyai, kita tahu hukum syah atau batal ibadah kita dari ulama, intinya orang yang berjasa menyampaikan syariah agama adalah para ulama/kiyai. Selanjutnya umaro' adalah orang yang mengatur berjalan tertibnya pemerintahan, ekonomi, sosial, keamanan, dan ketertiban. Semua yang mengatur dan menjalankan adalah umaro' dalam pemerintahannya. Sehingga dalam pemerintahan yang kondosif kehidupan akan berjalan dengan baik. Dan sebagai makhluk sosial tentu kita tidak bisa hidup sendiri, kita membutuhkan orang lain, semua kebutuhan kita berhubungan dan bergantung dengan bantuan orang lain. Tetangga, saudara, kenalan, apalagi keluarga adalah elemen yang sangat penting dalam kehidupan kita. Saya yang seorang santri kampung/deso, di masa-masa sulit apalagi di masa pandemi corona/covid19 seperti ini, orang yang pertama kali saya mintai pencerahan adalah para ulama/kiyai. Mereka para ulama/kiyai akan menjawab langsung dengan hikmah dan tidak menerangkan panjang lebar secara ilmiah, karena mereka akan menjawab seperti Alqur'an, dan memberikan anjuran-anjuran supaya memperbanyak istighfar, memperbanyak shodaqoh/selamatan, sholawat, membaca Alquran, dan lain-lain yang mendekatkan diri pada Sang Pencipta, serta memberikan amalan-amalan kusus di masa pandemi seperti yang diijazahkan dari Hadratus Syekh KH Hasyim As'ariy لي خمسة اطفي بها حرالوباء الحاطمة المصطفى والمرتضى وابنهما والفا طمة dan lain-lain, karena menurut mereka masa-masa pandemi seperti ini adalah coba'an dari Allah agar kita kita jadi orang yang tangguh dan sabar. Kalau kita lihat di kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani, musibah itu datang tidak untuk merusak (orang mukmin) tapi untuk membersihkan dosa-dosanya. Dalam kitab Alhikam disebutkan, masa-masa sulit disebut maqom qobadh (مقام قبض) yaitu suatu masa percobaan tingkat terendah seorang arif untuk lebih mengenal Allah, diatasnya adalah maqom basath (مقام بسط) yaitu masa penuh kemudahan, masa menurut mereka masa yang lebih berat cobaannya dibanding di masa sulit. بسطك كى لايبقيك مع القبض وقبضك كى لايتركك مع البسط واخرجك عنهما كى لاتكون لشيء دونه. Intinya, dimasa pandemi seperti ini, untuk bisa melewatinya kita harus mengikuti fatwa ulama, protokol pemerintah/medis, bantuan tetangga, saudara dan keluarga. Tapi walau sudah ada fatwa ulama, protokol pemerintah, peringatan tetangga, saudara, bahkan keluarga, masih saja banyak yang melanggar, akibatnya masih ada yang terpapar virus corona. Kata orang, kita berusaha Tuhan yang menentukan, kata ulama tauhid والله خلقكم وما تعملون Kata dokter "maaf kami sudah berusaha tapi ternyata Tuhan berkehendak lain" Wa Allahu a'lamu bishshowwab. Komentar
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
SEBUAH RENUNGAN* DALAM KONDISI PANDEMI COVID 19. Oleh: Mohammad Ulin Nuha Al-kisah, saat air bah sudah di pergelangan kaki, detik-detik menjelang datangnya banjir besar di zaman Nabi Nuh, seorang lelaki tua ahli ibadah didatangi oleh beberapa orang yang hendak menolongnya. Mereka berkata kepada pak Tua, "kami siap menggendong Tuan agar bisa bergabung di kapal Nabi Nuh". Tetapi lelaki tua ahli ibadah itu menolak, bahkan mengusir orang-orang yang hendak menolongnya. Ketika banjir sudah semakin tinggi, ia pun ditawari untuk naik ke sebuah sampan agar bisa ikut bersama kaum Nabi Nuh di atas kapal. Lagi-lagi Pak Tua ahli ibadah itu menolak seraya berkata, "tidak perlu kalian menolong aku, cukuplah Allah sebagai penolongku, Dialah sebaik-baik penolong bagiku (Hasbunallah wa ni'mal wakiil ni'mal Maula wa ni'mannashiir)", demikian ucapnya. Akhirnya, tenggelamlah laki-laki tua ahli ibadah itu, dan meninggal ditelan banjir. Setelah meninggal, maka di hadapan Allah ia pun protes, "Ya Allah, mengapa engkau tidak menolongku saat terjadi banjir besar padahal aku senantiasa berdo'a kepada-MU?" Allah menjawab, 'Aku tiga kali hendak menolongmu, tetapi engkau selalu menolak pertolongan-Ku. Ketahuilah, sesungguhnya Akulah yang menggerakkan hati manusia (tim sar dan tetanggamu) yang datang hendak menolong kamu, tetapi engkau terlalu angkuh dan sombong dengan menolak pertolongan yang Aku kirim kepadamu". Itulah maksud hadits Nabi SAW yang menyatakan : من لم يشكر الناس لم يشكر الله "Man lam yasykurinnaasi lam yasykurillah" (Barangsiapa yang tidak berterima kasih terhadap sesama manusia, hakekatnya ia tidak bersyukur kepada Allah". Karena itu saudaraku, saat kita sedang dalam kesulitan atau dalam ancaman bahaya, jangan sekali-kali menolak bantuan sesama mahluk. Jangan sekali-kali menganggap remeh dan mengabaikan setiap pertolongan dan nasehat/peringatan yang baik. Jangan remeh-temehkan himbauan resmi dari pemegang otoritas hanya karena takut aqidah bergeser atau merasa sebagai ahli ibadah, dan merasa yakin akan pertolongan Allah sehingga kita abai dan ogah-ogahan seperti rakyat Italia sebelum bergelimpangan terpapar wabah penyakit menular. Hormatilah setiap peringatan dan himbauan dari sesama manusia sebab boleh jadi itu adalah merupakan wasilah, cara, dan bentuk lain pertolongan Allah kepada hamba-Nya sebagaimana cerita dalam kisah di atas. Dan berikan bantuan seberapapun kemampuan saudara, karena semua itu akan dihitung oleh Allah SAW dan akan punya dampak manfaat pada sesama. Sebagaimana firman Allah SAW dalam surat Al-zilzal فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره(٧) ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره (٨). Bukankah di dalam Al-Qur'an dijelaskan " Kita diwajibkan tunduk kepada Alloh, tunduk kepada Rosululloh, dan Ulil Amri... Mari kita ikuti instruksi pemerintah kita....semoga negara kita Indonesia mampu menangani wabah ini, semoga kita semua dilindungi Alloh SWT, Aman, Tentram, Sehat, dzohiron wa bathinan. Aamiin... Allahu A'lam bishshowwab Komentar
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya