Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

TEGAK SERTA ISTIQOMAH “Jejeg tur ajeg” adalah kata-kata yang sering saya dengar dari KH Toha Mu’id, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Kediri di sela-sela pengajiannya. Beliau adalah seorang santri kinasih dari KH Zainuddin Mojosari (salah satu pengasuh Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk). Sebuah pondok yang ada di Dusun Mojosari Desa Ngepeh Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk (Nganjuk selatan). Beliau KH Toha Mu’id, adalah seorang kiyai yang alim dan istiqomah, saking istiqomahnya semua kegiatan Beliau sangat mudah di ketahui karena tidak pernah ganti waktu atau jamnya setiap hari. Disamping alim beliau juga kiyai yang mukasyafah (bisa melihat isi hati seseorang), sering saya bertanya dalam hati, langsung dijawab oleh beliau lewat pengajian. Sesekali saya sowan ikut ngaji ke Kediri setelah tidak tinggal di Pondok, saat itu saya dalam keadaan susah karena suatu masalah. Sesampai di tempat pengajian semua kesusahan saya dijawab dan diterangkan secara gamblang oleh beliau, padahal saya tidak pernah bertanya pada beliau, apakah itu sebuah kebetulan atau memang beliau mengetahui isi hati seseorang? Saya yaqin dengan pendapat yang kedua ini, karena sangat sering terjadi dan itu tidak hanya terjadi pada saya saja. Dan beliau adalah seorang kiyai yang sangat perhatian dan memperhatikan santri-santrinya, walaupun sudah pulang ke tempat asalnya masing-masing. Beliau sering mengatakan “opo-opo iku seng jejeg tur ajeg” yang mempunyai arti segala sesuatu itu harus tegak/benar sesuai syariat serta istiqomah/disiplin. Setelah melalui waktu yang sangat panjang saya baru bisa memahami, ternyata memang harusnya semua yang kita kerjakan itu pertama harus benar dulu, harus mengetahui ilmunya secara benar, baru kita lakukan secara istiqomah/disiplin maka akan menghasilkan kesuksesan, kemulyaan, dan keampuhan (atau karomah dalam dunia santri). Disamping itu dalam kesempatan yang lain dalam pengajiannya beliau juga sering mengatakan كن طالب الاستقامة ولا تكن طالب الكرمةArtinya: jadilah kamu itu orang yang mengejar istiqomah (disiplin) dan janganlah kamu orang yang mengejar karomah/keramat.Kalimat ini sering sekali beliau katakan, “godaken istikomah ojo godak karomah” (kejarlah kedisiplinan/istiqomah jangan mengejar karomah/keramat), “sebab istiqomah/ajeg iku keramat kang haqiqi, lan karomah iku keramat esek-esek” (sebab istiqomah/disiplin itu adalah karomah yang sebenarnya, sedang karomah/kemulyaan dunia itu adalah keramat yang tidak lama atau sementara) Setelah kita fahami dengan benar, perkataan KH Toha Mu’id tersebut sangat benar, kedisiplinan dalam amal yang baik sesuai syariat itu adalah kewajiban kita, sedangkan kemulyaan yang kita peroleh itu adalah hasil, dan hasil itu mutlak milik Allah SWT, kita sama sekali tidak punya hak untuk mencapurinya. Allah SWT yang menentukan hasilnya, kita hanya berkwajiban untuk beramal dan berusaha, kata para ulama نحن بالخيار والله بالقدر (kita berusaha/memilih dan Allah SWT yang menentukan hasinya) tapi menurut ilmu kebiasaan adalah من جد وجد (barang siapa yang benar-benar beruhaha pasti menemukannya), Jadi seumpama kita sudah usaha semaksimal mungkin tapi tetap tidak ada hasilnya, itu adalah keadilan Allah, dan tidak biasa menurut kita. Tapi biasa menurut Allah SWT. Akan tetapi kita tetap boleh berdo’a agar karomah itu bisa kita dapatkan, walaupun hanya bersifat sementara, tapi kalau tidak karomah rasanya ada yang kurang, menurut kita-kita orang awam. Wa Allhu a’lamu bish-showwab.