Langsung ke konten utama
OLEH MOHAMMAD ULIN NUHA PAI NON PNS KEC. NGETOS KESULITAN DAN KEMUDAHAN ADALAH COBAAN ان مع العسر يسرا O ان مع العسر يسرا (Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan, Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan. QS Al-lnsyirah ayat 5 dan 6) Setiap kesulitan pasti disertai kemudahan, artinya setiap kemudahan pasti didahului dengan kesulitan atau dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, dan itu sudah menjadi sunnatullahi seperti keterangan ayat diatas. Ada yang mengatakan hidup ini seperti roda, yang selalu berputar selama kita masih hidup, kadang kita diatas, kadang kita dibawah, kadang kita disamping kanan, dan kadang kita disamping kiri. Artinya kadang kita selalu mudah dan senang, kadang kita merasa sulit dan susah, kadang kita berbuat baik, dan kadang kita berbuat salah. Jadi kita jangan sekali-kali berharap tidak akan pernah mengalami kesulitan ataupun kesusahan, itu tidak mungkin. Setiap manusia tentunya mempunyai kesulitan dan kemudahan yang berbeda-beda, tingkatannya juga pasti tidak sama. Ada yang merasa kesulitan dalam mencari rizki, bahkan pekerjaan saja berganti-ganti terus karena selalu tidak cocok, tapi dia mudah dalam mencari jodoh, sehingga walaupun hidupnya belum mapan dan serba kekurangan, ia sudah mempunyai anak dan istri. Tapi ada juga yang merasa kesulitan mencari pasangan hidup tapi mudah dalam mencari rizki, bahkan pekerjaannya sudah mapan, jadi walaupun kehidupannya sudah mapan, sudah sangat berkecukupan dalam bidang finansial, tapi ia tetap saja masih melajang dan masih belum berkeluarga. Ada pula yang merasa kesulitan dalam keduanya sehingga tidak punya keluarga dan hidup dalam kemiskinan dan ada yang diberi kemudahan dalam keduanya sehingga hidup bekecukupan dan sudah punya anak istri, dan masih banyak contoh yang lainnya. Dari contoh kesulitan dan kemudahan diatas, manakala kita amati dengan seksama, maka kita bisa merasakan bahwa kesulitan ataupun kemudahan semuanya adalah cobaan atau fitnah dunia. Apabila kita dicoba dengan kesulitan mencari rizki, maka sebenarnya itu adalah cobaan tingkat biasa atau tingkat rendah. Karena cobaan tersebut bisa kita lihat dan bisa kita rasakan secara langsung. Dengan bekerja keras,dengan usaha terus menerus, bila masih gagal mencoba lagi, masih gagal terus mencoba lagi, begitu seterusnya apabila kita tekun mencoba maka pada akhirnya akan berhasil dan ini sudah terbukti nyata, kecuali kasus-kasus tertentu seperti orang yang punya salah atau teledor. Banyak pengusaha-pengusaha atau orang-orang sukses yang perjalanannya dengan jalan yang sangat panjang dan melalui percobaan-percobaan yang berkali-kali, dengan sabar dan ikhlas akhirnya bisa berhasil, dan golongan-golongan ini biasanya sangat bersyukur dan bahagia ketika akhirnya berhasil dan menjadi orag yang sukses. Selanjutnya apabila kita sudah sukses dan berkecukupan harta, apakah itu bukan cobaan? Sebenarnya itu adalah cobaan diatas tingkatan biasa atau menengah. Karena dengan berkecukupan harta benda sebenarnya kita sedang diuji oleh Allah SWT, apakah kita masih tetap bersabar? Apakah kita masih tetap tekun bekerja? Apakah kita tetap bersyukur? Ataukah sebaliknya? Dengan banyak harta kita jadi orang yang sombong, tidak peduli dengan sesama, tidak kenal lagi dengan saudara sendiri yang masih miskin, tidak mau bersedekah, atau bahkan menjadi orang yang kikir dan pada akhirnya karena sombongnya kita bisa meninggalkan ibadah kepada Tuhan karena kekayaan. Karena itulah kemudahan itu sebenarnya adalah cobaan yang tingkatannya diatas masa sulit, karena cobaannya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dan sulit dirasakan kecuali kita jeli dan mau berfikir dengan benar. Banyak orang ketika masa sulit bisa melewatinya dengan baik, sabar, tekun bekerja, dan tekun beribadah. Akan tetapi ketika ia sudah sukses, banyak menemui kemudahan, banyak bergelimang harta benda, dia malah tidak lulus, tidak bisa jadi orang yang bersyukur, tidak bisa jadi orang yang bersabar, tidak bisa jadi orang yang peduli terhadap sesama, dengan sombongnya dia mengatakan kesuksesannya adalah miliknya, hasil dari kerja kerasnya, dan tujuan hidupnya yang pada akhirnya dia juga meninggalkan ibadah pada Tuhannya. Inilah yang harus kita waspadai, karena kita semua pasti mengalami kedua hal tersebut. Apalagi kita adalah seorang penyuluh yang dianggap sebagai seorang tokoh masyarakat, kita harus bisa memberi wawasan pada masyarakat bagaimana cara melewati masa-masa sulit dan bagaimana cara melewati masa-masa penuh kemudahan, karena keduanya adalah cobaan dari Tuhan pada hambanya, sehingga masyarakat ketika masa-masa sulit tetap sabar, tetap tekun bekerja, dan tetap tekun beribadah pada Tuhannya. Dan ketika di masa-masa jaya, masa ketika sudah sukses, dan penuh kemudahan, tetap jadi orang-orang yang sabar, tetap jadi orang yang tekun bekerja, dan tetap tekun beribadah pada Tuhannya, serta jadi orang yang bersyukur. Yang pada akhirnya bisa bahagia di dunia dan bahagia di akhirat kelak sebagaimana visi dan misi kita sebagai penyuluh agama. Kebanyakan orang tidak akan tahu betapa berharga dan nikmatnya sebuah kemudahan kecuali ia mengalami kesulitan, betapa beharganya sebuah kesehatan kecuali ia mengalami sakit, betapa beharganya sebuah kekayaan kecuali ia mengalami miskin, betapa beharganya sebuah kesempatan kecuali ia mengalami kemsempitan, betapa beharganya sebuah masa muda dan kuat, kecuali ia menjadi tua dan lemah, dan betapa beharganya sebuah kehidupan, kecuali ia mengalami kematian, tapi kalau yang terakhir ini pasti semua sudah terlambat dan tidak bisa diulang lagi. Mudah-mudahan kita semua bisa melewati dan lulus dalam kedua cobaan tersebut. Amin. Wa Allahu alamu bishshowab. Sabtu,15 Agustus 2020
Postingan populer dari blog ini
Komentar
Posting Komentar