Langsung ke konten utama
Artikel Bulan Oktober 2020Oleh Mohammad Ulin Nuha Penyuluh Non PNS Kecamatan Ngetos *HARI YANG DINANTIKAN* Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya pada kita semua, Sholawat salam semoga tetap tercurahkan pada Baginda Nabi Agung Muhammad SAW pemimpin ummat sepanjang zaman. Setiap orang pasti ada hari-hari yang dinantikan entah itu hari yang menyenangkan atau sebaliknya. Contoh yang paling mudah seperti anak kecil yang akan diajak pergi ke rumah neneknya, “besuk hari sabtu kamu saya ajak ke rumah nenek”, maka si anak kecil ini tentu akan sangat senang dan menantikan hari sabtu ini, bahkan akan terbawa ke tidurnya atau mimpinya, karena hari itu adalah hari yang sangat dinantikan, hari yang sangat menyenangkan menurutnya, dimana dia bias bertemu nenek, kakek, dan saudara-saudara yang lain. Contoh hari yang dinantikan yang lain seperti yang terjadi pada hari kemerdekaan Skotlandia, dimana Rakyat Skotlandia tengah menunggu hasil penghitungan dari pemungutan suara referendum yang menentukan status Skotlandia di mata dunia. Bagi sebagian masyarakat Skotlandia, hari ini merupakan hari bersejarah yang sudah lama dinanti-nanti selama 307 tahun Skotlandia berada di Britania Raya. “Lima puluh tahun saya berjuang untuk kemerdekaan Skotlandia,” tutur Isabelle Smith (83) yang mendukung kemerdekaan Skotlandia di distrik Newhaven. Seperti yang ditulis oleh Andri Donnal Putera dalam artikelnya telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari yang Dinantikan Rakyat Skotlandia Akhirnya Tiba".Menurut sebagian orang bahkan ini adalah mayoritas, sangat menantikan hari minggu atau hari AHAD. Karena pada hari itu diharapkan bias beristirahat seharian penuh setelah bekerja 6 atau 5 hari, bias bepergian untuk berlibur bersama keluarga dan teman, sahabat, atau kenalan, bias ikut kerja bakti yang diadakan oleh warga, bias berolah raga bersama dengan teman-teman di lapangan, bias nongkrong bareng sambil ngopi, bias ikut pengajian rutinan MWC NU, bias nambah ilmu dengan mengambil kuliah lagi untuk meningkatkan kwalitas dan gelar, bias ikut les prifat, dan lain-lain, bahkan sebagian di hari minggu atau AHAD ada yang hanya digunakan untuk bermalas-malasan, tidur-tiduran tanpa kegiatan.Bagi seorang pelajar hari yang dinantikan tentunya adalah hari kelulusannya, bagi mahasiswa hari yang dinantikan adalah hari dimana dia diwisuda, bagi pemuda jomblo hari yang dinantikan adalah hari dimana dia ketemu jodohnya, bagi pasangan yang belum menikah pasti hari yang dinantikan adalah hari dimana dia naik di pelaminan, bagi pasangan yang lagi hamil hari yang dinantikan adalah hari kelahiran sang buah hati, bagi para pekerja baik kantoran atau lapangan hari yang dinantikan adalah hari dimana dia menerima gaji atau honornya. Mungkin ini juga terbesit pada benak para Penyuluh Non PNS, seperti Sang Penulis, tapi itu selalu ditepis dan dibuang jauh-jauh karena tidak sesuai dengan semangat perjuangan kepenyuluhan yaitu untuk menyebarkan, melestarikan, memajukan dan memajukan syari’at Islam di Bumi Indonesia dan menebar kebaikan pada seluruh umat manusia. Jadi para Penyuluh kontraknya adalah dengan Tuhan Sang Maha Pencipta, dan hari yang dinantikan bagi para Penyuluh adalah dimana dia bias melaksanakan kepenyuluhan dan materi dakwah bias diterima dan dilaksakan oleh masyarakat, bias terlaksana syari’at Islam dengan benar dan program pemerintah bias terlaksana ditengah-tengah masyarakat, setidaknya itu menurut Penulis.Saya punya cerita unik tentang hari yag dinantikan, saya pernah mendengar cerita dari bapak, ibu, dan saudara yang tua bahwa kakek dari bapak saya yang bernama H Umar bin H Umar ( nama aslinya adalah Kairan, dalam Bahasa Arab Khairan (baik) yang waktu menunaikan ibadah haji namanya oleh Syeh di Makkah diganti dengan Umar, nama yang sama dengan nama ayahnya) usianya mencapai 125 tahun, ada yang mengatakan 140 tahun, Wa Allahu a’lamu bishshowab. Beliau sehat samapi usia menjelang wafatnya dan bahkan diusia tuanya itu masih biasa makan biji trembesi yang digoreng oleh para santri. Beliau punya penantian hari yang sangat unik, beliau selalu menantikan dimana dia bias bertemu dengan Tuhannya. “Mbar-mbar kapan to matiku kok suwi men” (Mbar-mbar kapan saya mati kok lama sekali) Mbar adalah nama pendek anak perempuannya yang bernama Ambar (saya biasa memanggil Mbah Ambar), dan Mbah Ambar biasanya jawab “Nek pingin cepet mati dzikir pak” (pak kalau ingin cepat mati maka berdzikir saja) dan beliaupun selalu berdzikir لا اله الا الله sampai beliau tertidur.Dari cerita diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kematian yang sangat ditakuti oleh kebanyakan orang, ternyata ada sebagian orang yang sangat merindukan kematian, karena dengan kematian tersebut dia bisaa bertemu dengan Tuhannya, bertemu dengan yang sangat dirindukannya dan hal ini sering kita jumpai dalam cerita-cerita akhir hidup dari seorang wali-wali Allah SWT.Menurut Muhammad bin Abdilah bin Malik pengarang kitab nahwu Al-Fiah bahwa hari yang dinantikan adalah ketika Allah SWT telah memberikan pemberian yang sempurna yaitu ridho Allah SWT dalam derajat akhirat, sebagaimana dalam Nadhoman Al-Fiah :والله يقضي بهبات وافرة لي وله في درجات الاخرة Artinya : “Semoga Allah SWT memberikan pemberian yang sempurna padaku (Muhammad bin Abdillah bin Malik) dan pada Ibnu Muktiy dalam derajat akhirat. Jadi kesimpulannya hari yang dinantikan akan berbeda-beda menurut ilmu dan pemahaman masing-masing orang, setiap orang mempunyai keinginan dan penantian masing-masing, baik itu yang bersifat duniawi atau bersiafat ukhrowi.Wa Allahu a’lamu bish-showab.DAFTAR PUSTAKAMuhammad bin Abdillah bin Malik, Al-Fiah Ibnu Malikhttps://internasional.kompas.com/read/2014/09/19/06593241/Hari.yang.Dinantikan.Rakyat.Skotlandia.Akhirnya.Tiba. diakses pada Sabtu, 24 Oktober 2020 jam 07.34 WIB
Postingan populer dari blog ini
Komentar
Posting Komentar